MBS Ki Bagus dan Distingsi Pondok Berkemajuan
28 November 2018
Add Comment
Responsifonline.com-Selasa (20/11) MBS Ki Bagus Hadikusumo kedatangan Grand Imam Masjid New York, USA, Syaikh Syamsi Ali. Kemarin, saat informasi kedatangan beliau dishare di group wali santri, saya melonjak girang. Sudah lebih dari lima tahun mengikuti kiprah dakwah Grand Imam di New York lewat media, saatnya bertemu langsung, syukur-syukur bisa dialog, apa lagi bisa wawancara. Tapi, untuk bisa wawancara, rasanya kecil kemungkinan karena bisa jadi karena agenda Grand Imam yang padat. Seperti saya duga, setelah sesi foto-foto, Imam Syamsi Ali langsung pamit. Beliau mengejar agenda berikutnya di BSD.
Santri MBS, full disuguhi ceramah
inspiratif sepanjang lebih kurang satu jam lebih lima belas menit. Beruntung
sekali para santri yang dititipkan orang tua mereka hari ini. Wawasan mereka
benar-benar dibuka pada tiga hal penting sepanjang saya menangkap ceramah Imam
Syamsi Ali.
Pertama, santri diperkenalkan Islamic World
View atas identitas yang autentik.
Imam Syamsi Ali menegaskan, bahwa seorang
muslim harus punya peran sebagai penentu di mana pun dia berada. Seorang muslim
tidak boleh inferior yang pasrah ditentukan harus begini dan begitu. Jadilah
penentu, meskipun berada di negeri orang.
Imam Syamsi Ali menyuguhkan contoh-contoh
konkret sejak beliau di Pakistan, Jeddah, sampai New York dan Washington DC.
Dalam dunia akademis, penjelasan Imam
Syamsi Ali ini sangat penting bila dikaitkan dengan fenomena pelajar muslim
yang belajar di Barat atau Amerika yang kehilangan identitas. Tidak sedikit
dari mereka yang pola pikirnya menjadi westernized, terbaratkan. Lebih tidak
bisa dimengerti, setelah mereka kembali ke
Indonesia, menyandang baju intelektual, aktif menyebarkan pemahaman Islam
sebagaimana Islam yang dipahami Barat Kristen. Di sinilah kiprah sosok Imam
Syamsi Ali hadir, bahwa seorang intelektual muslim boleh saja belajar, menetap,
bergaul, bekerja, bahkan mencari penghidupan bersama orang di Barat atau
Amerika. Tetapi karakter autentiknya sebagai muslim tidak berubah, paham
Islamnya tidak berubah, bahkan bisa mengubah kekeliruan pola pikir hegemoni
Barat Amerika tentang Islam seperti yang dilakukan Imam Syamsi Ali.
Kedua, open minded dan membuka diri untuk
berdialog.
Imam Syamsi Ali tidak sedang menarasikan
cerita fiksi layaknya novelis menyambung-nyambung plot tentang Islam yang
terbuka, ramah, sekaligus jawaban problem modernitas pluralistik di negeri Paman
Syam di hadapan santri MBS. Beliau sedang mengemas fakta-fakta ril
sepanjang menjadi Imam Masjid New York dalam relasi antara Islam, Yahudi,
Katolik, Kristen, Hindu, Agnostik,
bahkan ateis Amerika seperti cerita dalam novel fiksi ilmiah sehingga sangat
menarik, hidup, seakan santri sedang dibawanya mengalami langsung pergulatan
itu di Amerika. Tak terhitung, dari pergulatan interfaith itu mengantarkan ada
penganut Yahudi, Katolik, Kristen, Hindu, Agnostik, bahkan ateis memilih
bersyahadat di hadapan Imam Syamsi Ali. Tak terhitung, orang Amerika pembenci
Islam menjadi pembela Islam di tangan Imam Syamsi Ali setelah melalui proses
dialog yang sangat terbuka.
Di sini, harus disyukuri, santri MBS
mendapatkan model dari seorang Imam Syamsi Ali, bagaimana mereka kelak akan
menjadi ulama dan dai dengan tantangan dua atau tiga kali lebih berat dari yang dihadapi para
ustadz dan Kiai mereka di MBS, bahkan dari Imam Masjid New York itu sendiri
jika takdir mereka harus berhadapan dengan komunitas seperti yang dihadapi Imam
Syamsi Ali.
Dan ketiga, public speaking skill
Kemahiran berbahasa asing, bagi MBS Ki
Bagus Hadikusumo, rasanya bukan lagi distingsi, atau keunggulan utama yang
harus dibangun. Tadi, dalam sesi tanya jawab, empat dari lima santri bertanya dalam bahasa
Inggris. Artinya, berbahasa asing, bagi santri MBS bukan lagi hal yang spesial
walaupun harus terus diperkuat supaya kemampuan itu tersebar merata pada tiap
lidah santri. Ceramah umum Imam Syamsi Ali hari ini, distingsi MBS Ki Bagus
Hadikusumo mau tidak mau harus melampaui MBS atau pondok Muhammadiyah umumnya.
Hasil konsep learning to know, learning to
do, learning to be, dan learning to live together ada pada
kompetensi sosok Imam Syamsi Ali
seperti yang saya saksikan hari
ini. Mungkinkah itu diadopsi sebagai tawaran distingsi skill MBS? Kira-kira,
begitulah kerangka profile lulusan MBS ke depan. Sebab saya yakin, Kiai DR.
Endang, tidak asal 'ujug-ujug' menghadirkan beliau ke MBS. Ini mesti ada udang
di balik tepung.
Kompetensi public speaking Imam Syamsi Ali,
pada kasus yang beliau sampaikan, mampu 'menyihir' orang kafir menjadi muslim,
pembenci Islam menjadi pembela Islam, bahkan seorang Rabi Yahudi Amerika saja
tercengang dan mengubah pandangan negatifnya pada Islam setelah intens bertemu
Imam Syamsi Ali.
Public speaking skill bisa jadi salah satu
distingsi MBS. Bisa jadi sudah diasah di MBS Ki Bagus Hadikusumo dalam istilah
khas pesantren yang dikenal dengan muhadharah. Hanya saja, konten atau
muatannya harus terus diperbarui, disesuaikan dengan konteks di mana skil itu
akan diterapkan lulusannya kelak. Saya membayangkan, pertemuan hari ini menjadi
jalan MoU antara MBS Ki Bagus Hadikusumo dan Imam Syamsi Ali untuk menyusun
kurikulum bersama pondok masa depan yang berkemajuan dengan public speaking
skill sebagai salah satu distingsinya.
Anak Bandel
Imam Syamsi Ali mengaku sebagai anak
bandel. Usia SD, sudah jadi 'panglima perang' para penggembala, menggenggam
parang berkelahi dengan penggembala lain di kampungnya. Kebandelannya mengusik
sang ayah, mau jadi apa Syamsi kecil nantinya.
Dititipkanlah Syamsi yang bandel itu di
Pondok Darul Arqom Muhammadiyah Gombara, Sulawesi Selatan.
Waktu itu, pondok Imam Syamsi sangat
sederhana, jauh sekali dengan kondisi MBS Ki Bagus Hadikusumo yang tiap bulan
selalu bertambah kelihatan megah. Kesederhanaan itu beliau gambarkan dengan
menu makan di pondok, di mana makan nasi dengan kecap dan garam sudah dirasa
luar biasa.
Siapa nyana, seperti uraian Imam Syamsi Ali
tadi pagi, bahwa manusia itu terombang-ambing dalam qudrah Allah. Manusia tidak
berdaya jika sudah berhadapan dengan kehendak taqdir-Nya. Kini, 'santri menu
kecap' itu sudah berada pada taqdir berikutnya sebagai Imam Muslim paling
berpengaruh di New York, bahkan di Amerika.
Menghadirkan Imam Syamsi Ali di MBS adalah
strategi pembelajaran yang sangat bermakna. Bisa jadi, pandangan para santri
hari ini, jauh bergeser dari hari sebelumnya tentang siapa mereka dan kelak
ingin seperti apa.

0 Response to "MBS Ki Bagus dan Distingsi Pondok Berkemajuan"
Post a Comment