Mahasiswa dan nyalinya
11 August 2016
1 Comment
Langkah dan suara mahasiswa dalam
perjalanannya mewarnai agenda perubahan
di republik ini. Tak heran pergerakan 98 yang dilakukan mahasiswa
melahirkan reformasi. Sudah barang tentu saya, anda ataupun kita semua
bersyukur dengan adanya lingkungan kampus yang menjadi salah satu wadah
pemersatu dalm konteks pemuda tersadarkan secara akademik maupun sosial.
Namun itu hanya sebuah sejarah yang mungkin akan susah untuk
terulang kembali, mahasiswa hari ini lupa akan tanggung jawabnya sebagai insan
tersadarkan katanya. Kisah romantika pergerakan mahasiswa
telah pupus seiring globalisasi yang semakin cepat. Terlalu naïf juga kalau kita mengatakan kemerosotan kesadaran mahasiswa dikarenakan semakin dipolitisainyaa gerakan mahasiswa oleh orang-orang yang berkepentingan, sehingga arah gerakan mahasiswa seakan-akan lagi tidak memiliki roh gerakan yang patut untuk diperhitungkan.
telah pupus seiring globalisasi yang semakin cepat. Terlalu naïf juga kalau kita mengatakan kemerosotan kesadaran mahasiswa dikarenakan semakin dipolitisainyaa gerakan mahasiswa oleh orang-orang yang berkepentingan, sehingga arah gerakan mahasiswa seakan-akan lagi tidak memiliki roh gerakan yang patut untuk diperhitungkan.
Alih-alih bergerak untuk berjuang,
membahas isu-isu kontemporer sepertinya agak susah terlaksanakan, pasalnya
nilai apatis dan pragmatis menjadi identitas mahasiswa hari ini. Jangan katakan
itu adalah fenomena yang tidak engkau liat di dalam lingkup mahasiswa hari
ini!!!
Doktrin kampus yang semakin hari semakin
merenggut kretifitas mahaiswa dengan mengatas namakan kesusksesan di masa
depan. Sadar atau tidak paradigm
mahasiswa sengaja di konstruk untuk menjadi robot-robot yang siap bergerak
ketika mendapatkan instruksi, bukan lagi sebuah kesadaran transformasional yang
muncul dalam benakk mahasiswa.
Nyali mahasiswa seakan dijepit oleh
bangku-bangku perkuliahan yang katanya sebagai wujud pelaksanaan amanah
pancasila dan UUd’45“mencerdaskan
kehidupan berbangsa”. Apakah itu betul???
Langkah mencerdaskan anak bangsa bukankan
terlalu berlebihan ketika mahasiswa merasa terpaksa dan tidak memaknai nilai
demokrasi dalam setiap pelaksanaannya. Apakah pilihan cerdas itu hanya satu.
Pembelajaran skolastik yang dipersempih dengan bangku persekolahan hanya akan
memberikan pemaknaan kepada mahasiswa untuk patuh bukan sadar.
kritis...
ReplyDelete