Percepatan Ekonomi VS Ketidakmampuan SDM
16 April 2017
2 Comments
Indikator sosial yang baik menurut perspektif
masyarakat awam adalah dengan meningkatnya pendapatan perkapita dan harga beli
barang tidak memberatkan bagi mereka.
Istilah masyarakat awam barangkali bisa disandarkan bagi mereka yang termasuk dalam klasifikasi kelas menengah ke bawah dan mereka yang memilki keinginan yang sama meskipun berada dalam kelas atas atau elite class.
Istilah masyarakat awam barangkali bisa disandarkan bagi mereka yang termasuk dalam klasifikasi kelas menengah ke bawah dan mereka yang memilki keinginan yang sama meskipun berada dalam kelas atas atau elite class.
Hanya saja indikator
itu sebatas wacana yang menurut saya pribadi susah untuk dicapai, bukan tidak
mungkin, tapi khusus di Indonesia harapan semacam itu harus berbenturan dengan
keinginan-keinginan koorporasi swasta yang memegang kendali atas jalur
perekonomian di Indonesia, seperti kita tau bersama segelintir dari mereka yang
memilki perusahaan Trans National
Coorporatiaon’s (TNC’s) sepertinya
menikmati keadaan semacam ini dengan jumlah kekayaan setara atau sama dengan
jumlah kekayaan barkali-kali lipat pendapatan masayarakat kelas menengah. Sudah
banyak regulasi yang coba ditawarkan sebagai win-win solution dari
permasalah ini, tapi keadaan masih tetap sama dengan sebelumnya, meskipun
diakui bahwa prestasi pemerintah dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan
ekonomi yang konsisten dengan pendapatan perkapita yang meningkat pula, tapi
tidak dibarengi dengan konsistesi harga beli, bahkan prestasi itu hanya ditopang
oleh semakin modern dan maujunya perkembangan zaman yang tetap menolerir TNC’s terus berusaha menjadi pengontrol harga-harga
dipasaran akibat proses swastanisasi. Bukan dalam arti kita pesimis dan skeptis
melihat kondisi yang terjadi, tapi
aparatur Negara yang tak kunjung sadar bahwa kondisi ekonomi akan
membaik jika saja SDM baik.
Jika sistem yang terus diperbaharui dari waktu ke
waktu pada dasarnya ekuivalen dengan ketidakmampuan aparatur Negara untuk
meneropong masa depan perekonomian Indonesia. Perubahan-perubahan sistem
ekonomi dari waktu ke waktu justru akan semakin memberatkan masyarakat yang
akan beradapatasi kembali dengan sistem-sistem yang baru. Katakan di era SBY
dan kabinet Indonesia bersatu Jilid I dan II yang mendorong percepatan ekonomi
dengan modelnya tersendiri, tapi lain halnya di era Jokowi dan Kabinet
kerjanya. Dalam artian paling sederhana bahwa tak ada regulasi yang sifatya
final untuk mendorong percepatan ekonomi secara berkesinambungan atau
barangkali sistem dalam tataran teoritis berbeda tapi implementasi di lapangan
sama saja. Barangkali kita bisa berasumsi bahawa kacamata dari setiap rezim itu
berbeda dalam melihat realita kehidupan sosial sehingga penyelesaiyannyapun
berbeda, tapi itu tidak kita lihat pada era SBY dan Jokowi sampai hari ini,
lihat saja jarak pendapatan mereka yang memiliki penghasilan lebih dibanding
mereka yang mendapatkan penghasilan yang kurang. Sayangnya argumen semacam ini
kerap kali dipandang sinis dan ditanggapi berlebihan oleh mereka yang menurut
saya tidak pernah merasakan berada dalam garis kemiskinan yang pelik. Dikatakan
bahwa kritik semacam ini berbau komunis, sosilalis dan marxislah yang sebetulnya
dalam kenyataannya kitapun masih bedebat dengan paham-paham itu untuk membangun
kesepahaman. Tapi tak apalah kesinisan dan tanggapan itu berlanjut, yang kita
inginkan ada semacam penyelesaian yang berkepenjangan dari setiap regulasi yang
ditetapkan pemerintah. Karena pada dasarnya rakyat yang kelaparan akan terus
kelaparan, pengemis akan terus megemis, yang tidur di kolong jembatan akan
terus tidur di kolong jembatan, jika tak ada solusi yang tak berkelanjutan
dalam konteks pertumbuhan ekonomi sekaligus menyetop TNC-TNC untuk mengntrol
harga pasar.
Dalam situasi dimana kebijakan tentang ekonomi
diputuskan oleh pemerintah tentu harus dibarengi dengan keinginan yang besar
dan kecerdasan untuk melihat secara objektif dan holisitk permasalah akar
rumput. Kalaupun misalanya harga pasar atau harga beli tak dikendalikan oleh
perusahaan-perusahaan swasta barangkali kita harus melihat lagi permasalahan
yang sebetulnya menjadi tugas yang paling berat yaitu memaksimalakan peran
masyarakat untuk ikut terlaibat aktif dalam proses percepatan ekonomi. Seperti
kita tau bahwa ujung tombak dari setiap kebijakan itu berada pada masyarakat,
entah itu kelas menengah ke bawah ataupun kelas menengah ke atas. Saya kira
yang terjadi selama ini berkenaan demgan kebijakan-kebijakan yang tak
terimplementasi dengan baik adalah ketidakmampuan setiap steakholder untuk
menyampaikan dan memahamkan masyarakat akan kebijakan yang sebenanrya
dimakasud, itu yang pertama. Yang kudua adalah kecenderungan kita untuk
melakukan adopsi sistem dari luar tanpa memperhatikan kondisi yang sebenarnya
terjadi di masyarakat yang akhirnya adalah ketidaksiapan masyarakat untuk
bergaul dengan sistem itu, bukan saja secara geografis sistem yang diadaopsi
itu berbeda, tetapi kondisi sosial yang justru paling menonjol dari setiap
pengaplikasian sistem adopsi itu. Ringkasnya bahwa dalam setiap penerapan
kebijakan jangan hanya memperlihatkan betapa intelektual dan hebatnya kita
dalam menyusun kebijakan itu tanpa mempertimbangkan reaction dan action
masyarakat yang bisa saja akan bermacam-macam tafsiran dan pelaksanaanya, atau
yang lebih parah lagi yang terjadi adalah bahwa terjadi semacam deregulasi dari regulasi yang dicanagkan oleh pemerintah.

Kombinasi mutakhir, postrukturalis dan idealisme matang
ReplyDeleteKeren bang
ReplyDelete