Masihkah ada Optimisme berdemokrasi dalam pilkada ?
05 May 2017
2 Comments
Hasrat
untuk terjun kedalam politik menjadi begitu besar akhir-akhir ini, tak
terkecuali para aktor lintas zaman yang ikut, tetapi mereka yang sebagai
“amatiran” dalam ranah politik tak gentar untuk ikut menunaikan hajat
politiknya. Tapi itulah demokrasi dimana individu dalam suatu Negara adalah
makhluk merdeka.
Dari segi hak setiap individu tak mungkin untuk dibatasi tetapi sebagai catatan penting harusnya mereka yang sudah atau akan terjun dalam politik memiliki ingatan sejarah yang kuat, karena politik hanya bisa berjalan pada relnya jika memori kita tentang sejarah berfungsi. Ini bukan soal siapa memilih siapa, tapi bagaimana kita menyikapi perkara Indonesia dengan kebijakan dan keputusan yang pernah cacat dalam pergolakan sejarah politik di Indonesia. Sekali lagi tak ada niat untuk menutup ruang bagi siapa saja untuk andil dalam politik, baik dalam skala daerah ataupun nasional.
Mengingat sejenak perkara hari-hari ini dalam setiap kontestasi pilkada ada saja berita “miring” yang kerap melintas bagai aroma busuk yang tak tertahan. Bukankah kejadian semacam itu atau kabar semacam itu akan merobek sejarah reformasi yang kita reggut dari orde baru. Belum lagi kita menyoal para Buzzer yang tak pernah berhenti merusak akal sehat kita dalam berdemokrasi. Ya Buzzer, perusak akal sehat paling kejam diabad ini. Tak apalah rasanya saya memberikan semacam analisis sederhana dalam menyikapi fenomena ini. Pertama kecerdasan dalam membaca kejadian politik merupakan syarat utama dalam membasmi para Buzzer itu, agar tak ada konotasi kita dibohongi secara tak sadar oleh mereka para perusak etika publik. Kedua harusnya ada semacam punishment politik agar akurasi berita atau ucapan tak ada yang membelot.
Dari segi hak setiap individu tak mungkin untuk dibatasi tetapi sebagai catatan penting harusnya mereka yang sudah atau akan terjun dalam politik memiliki ingatan sejarah yang kuat, karena politik hanya bisa berjalan pada relnya jika memori kita tentang sejarah berfungsi. Ini bukan soal siapa memilih siapa, tapi bagaimana kita menyikapi perkara Indonesia dengan kebijakan dan keputusan yang pernah cacat dalam pergolakan sejarah politik di Indonesia. Sekali lagi tak ada niat untuk menutup ruang bagi siapa saja untuk andil dalam politik, baik dalam skala daerah ataupun nasional.
Mengingat sejenak perkara hari-hari ini dalam setiap kontestasi pilkada ada saja berita “miring” yang kerap melintas bagai aroma busuk yang tak tertahan. Bukankah kejadian semacam itu atau kabar semacam itu akan merobek sejarah reformasi yang kita reggut dari orde baru. Belum lagi kita menyoal para Buzzer yang tak pernah berhenti merusak akal sehat kita dalam berdemokrasi. Ya Buzzer, perusak akal sehat paling kejam diabad ini. Tak apalah rasanya saya memberikan semacam analisis sederhana dalam menyikapi fenomena ini. Pertama kecerdasan dalam membaca kejadian politik merupakan syarat utama dalam membasmi para Buzzer itu, agar tak ada konotasi kita dibohongi secara tak sadar oleh mereka para perusak etika publik. Kedua harusnya ada semacam punishment politik agar akurasi berita atau ucapan tak ada yang membelot.
Pilkada yang seyogyanya
menjadi ladang yang subur untuk menanam benih demokrasi yang baik malah menjadi
pesta para kartel-kartel politik yang tak ingin kehilangan muka dan kursi. Tak
apalah sedikit berburuk sangka dan meng-iyakan perkataan mereka yang mengusung slogan
anti-demokrasi dengan dalil bahwa politik hari-hari ini tidak diputuskan di
bilik suara dengan argumentasi yang bermutu para calon tapi diputuskan lewat
politk kartel di dalam pasar gelap kekuasaan. Kadang-kadang pikiran pesimis
hadir menyeruak ke ruang-ruang publik untuk mengampanyekan sistem di luar
demokrasi yang baik untuk diterapkan di Indonesia. Ini merupakan efek dari
demokrasi hari-hari ini.
Mari kita lihat dari
sudut pandang keberhasilan kita dalam demokrasi, lihat saja mereka yang masih
gigih memperjuangkan HAM, UUD 1945 dan pancasila kita masih utuh. Itulah
keberhasilan yang sampai hari ini kita capai. Di luar dari pada itu, hanya ada
transaksi-transaksi kotor yang dilakukan oleh para mafia-mafia politik yang tak
tuntas memorinya akan sejarah pergolakan politik di Indonesia. Akan banyak
sekali kontradiksi-kontradiksi yang ditemui di persimpangan jalan yang akhirnya
optimis dan pesimis dalam berdemokrasi menjadi taruhan dan pilihan.
Keren bang
ReplyDelete👍👍👍👏👏👏
ReplyDelete