Setelah Sarjana?
22 July 2017
Add Comment
mungkin iyya, ataukah pertanyaan yang agak kritis semisal apakah keadaan ini arahnya komersialisasi? Jawabannya mungkin juga, yang pasti dari kenyataan hari-hari ini kampus-kampus nampaknya sedang berebutan lahan subur diwaktu yang syahdu. Tentu ini secara sederhana dapat diucapkan bahwa bukanlah menjadi soal yang harus dikhawatirkan jika kemunculan kampus-kampus itu untuk memberikan pilihan-pilihan kepada calon mahasiswa , tapi akan jadi soal jika kampus tersebut menjadi lahan bisnis yang menakutkan. Dilain sisi dikejauhan dapat didengarkan keluhan-keluhan dari mereka yang telah menempuh jejang pendidikannya tidak menghasilakn apa-apa. Barangkali kalau diinterpretasikan secara sederhana “susah mendapatkan kerja meskipun sudah memiliki ijazah”. Padahal di awal pada saat Penerimaan Mahasiswa Baru ada optimisme yang muncul dari cita-cita yang diharapakan, sehingga jalur kampuslah yang dipilih untuk menunaikan hajat itu. Memang kampus tidak memberikan jaminan berhasil atau tidaknya mahasiswa diluar sana nantinya, hanya bekal berupa kompetensi. Tapi bagaimana jika ada kampus yang membatasi ruang gerak mahasiswa berkompetensi pada bidang-bidang yang lain? Bukankah ini justru menyalahi iming-iming awal yang dikampanyekan kampus? Bukankah ini akan menutup peluang masa depan mahasiswa? Tak heran disana-sini didengarkan keluahan-keluahan lulusan kampus akan penyesalannya. Tak bermaksud untuk menjadi penghasut, tapi kondisi itu ada hari-hari ini yang diikuti semakin mahal dan mewahnya biaya pendidikan hari ini. Mahasiswa tak mungkin menutup mata akan semua itu, toh yang merasakan dan menjalankan adalah mahasiswa. Apakah kampus harus mendikte mahasiswa? tidak! Kampus dimaksudkan sebagai tempat lalu lalang pikiran rasional yang tak tertutup dengan kritik. Jika mahalnya biaya pendidikan menanamkan doktrin sarjana sebelum waktunya atau sarjana tepat waktu, maka perlu ada upaya refleksi diri akan kompetensi yang akan dibawa keluar. Karena jelas memang bahwa ukuran hari ini adalah kompetensi yang dikompetisikan tak ayal dari sebuah penegasian dan penyingkiran bagi mereka yang tak berkompetensi. Selanjutnya jika argument tentang kompentensi itu luntur karena semua kembali kepada takdir setiap personal, maka dapat dikatakan dengan jelas bahwa semua kampus itu sama. Karena pilihan untuk masuk pada kampus A, B atau C misalnya tidak lagi menjadi pertentangan yang harus dipikirkan, entah itu pilahnnya karena fasilitas, akreditasi, manajemennya, keindahan bangunannya, kebebasan untuk berkompetensi dan lain-lain sebagainya. Penting kiranya untuk dikatakan sebagai bentuk kekhawatiran bahwa jangan sampai kampus menjadi tempat pemerataan kebingungan dengan munculnya inkonsistensi dan deregulasi antara apa yang terpublish dan apa yang terlaksana.

0 Response to "Setelah Sarjana?"
Post a Comment