Memberangus Politikus “naas” di Pentas Atas
14 August 2017
Add Comment
Tak apa kiranya memberikan asumsi bahwa intesitas masyarakat memperbicangkan politik dapat mengontrol proses politik yang ada, meskipun intesitas itu hanya sebatas tebakan atau memeriahkan suasana politik, tapi dalam menyikapi “muntah” politik di pentas atas atau dengan hanya memperbicangkannya bukankah harapan akan keadilan dan kehidupan yang baik ada disitu. Bahwa kesadaran akan keadilan dan kehidupan baik itu berangkat dari politik sendiri. Dalam mereflekasi keadaan itu harusnya pendidikan politik sejak dini hadir, baik pada ruang-ruang formal ataupun sebaliknya. Tapi dilain sisi ada kecenderungan mindset masyarakat bahwa
politik atau yang dinamakan politik itu di dalamnya mengalir air kotor yang busuk. Nah tentu untuk membedah kedua asumsi kontradiktif perlu ulasan dari berbagai kajian disiplin ilmu yang holistiik dan konstruktif, tapi satu hal yang pasti bahwa pendidikan politik itu harus ada. Justru jika masyarakat menjadi apatis dengan politik sejak saat itu politisi “naas” mulai muncul dipangung-panggung atas, dan sialnya mereka bangga dengan itu, tanpa menyadari bahwa mereka adalah budak. Jenis ini kerap dijumpai dimana-mana, tak terkecuali politisi panggung mewah, politisi alas roban bahkan polisi, eh politisi palsu. Mengapa jenis politisi seperti ini tumbuh subur diladang yang gersang dan diwaktu yang pekik? Sebelum menjawab problem itu, konsensus bahwa politik dimaksudkan sebagai upaya untuk mendstribusikan keadilan melalui proses yang dinamis dan variatif perlu diterima sedangkan politik yang dimaksudkan hanya untuk tukar tambah kekuasaan mesti ditolak secara tegas, sehingga melalui konsensus semacam itu politik tidak menghasilkan kotoran yang busuk dan para politisi bicara dan bertindak sesuai instruksi satu orang –baca ketua-ketua partai, jika tidak demikian dapat dipastikan pendidikan, ekonomi, sosial dan kesemua-muanya akan dibentuk oleh politisi-politis “naas” yang bahkan tak pernah mengerti arti kata politik itu apa dan akhirnya bisa diprediksi bagaimana. Ditambah lagi politisi-politisi semacam ini mempertontonkan arogansinya ke ruang-ruang publik, seakan-akan sudah berbuat untuk keadilan, padahal hanya menyanyikan lagu sayonara saja. Aneh bin ajaib bin sakti. Soalnya adalah cara memberangusnya bagaimana, jika sudah demikian. Tidak mungkin peruabahan diharapkan seiring dengan dinamisnya politik yang kadang amis, karena doktrin untuk membesarkan partai tak kunjung juga usai dan lebih penting dari membesarkan cakrawala pikir serta lebih penting dari membesarkan harapan kaum miskin. Perlawanan politik melalui pendidikan politik harus dibangun dari mereka yang tak pernah dan tau mau paham politik. propaganda politik akal sehat adalah senjata untuk melakukan perlawanan secara komprontatif. Hal dasar untuk memulai itu semuanya adalah berhenti untuk menyanjung politis-politis “naas” di pentas atas dan mengatakan rakyat adalah majikan kalian dan kalian adalah budaknya rakyat. Relasi proses politk dan kekuasaan yang ingin menangguhkan suara rakyat tentu harus menjadi perhatian dalam setiap upaya mengagendakannya. Perlawanan bagi mereka barangkali meraka anggap sebagai ancaman yang akan membahayakan panggungnya dan baragkali atas dasar arogansinya mereka menyiapkan amunisi bodyguard untuk mengamankan panggungnya. Tapi justru karena perilaku mereka yang tak pernah tuntas dan tak pernah cukup akal amunisi politiknya, adalah merupakan kesempatan untuk melakukan konfrontasi habis-habisan dan membuat perhitungan politik secara akdemis dan terukur melalui pola-pola penyadaran yang membangun akal sehat rakyat.

0 Response to "Memberangus Politikus “naas” di Pentas Atas"
Post a Comment