Perkara Primordialistas dan Melek Tekhnologi di Desa
28 August 2017
Add Comment
![]() |
Kondisi hari-hari ini tidak mungkin dilepaskan dari
globalisasi yang tak henti-hentinya muncul dengan inovasi dan kebaruan yang
menurut kebanyakan orang dapat membantu untuk memudahkan manusia. Tentu ini
bukanlah kondisi objektif yang idela dan diharapkan, tapi inilah kondisi yang
terjadi. Dibidang tekhnologi misalnya kehadirian globalisasi begitu terasa bagi
mereka yang sadar dan paham akan evolusi peradaban.
Debat tentang globalisasipun sampai hari ini masih menjadi topik yang menarik, baik kedudukan teoritisnya maupun tataran praktisnya. Pengambilalihan lahan politik kaum kiri oleh kaum kanan menjadi pemantik perdebatan akan globalisasi ini. Memang susah untuk terhindarkan bahwa sendi-sendi kehidupan akan pasti dapat mengikuti evolusi peradaban modern disemua sektor dengan globalisasi ini.
Tak terkecuali Masyarakat Desa yang lama atau cepat pasti akan ikut andil dalam melanggengkan ambisi globalisasi. Ambil contoh salah satu Desa di bagian selatan Bulukumba yaitu Desa Tamatto. Desa ini secara sosial merupakan Desa yang tumbuh dengan semangat gotong royong yang tinggi. Tapi akhir-akhir ini semangat itu sepertinya relatif menurun mungkin dikarenakan modernisasi. Perkara ini tak sekedar merubah cara berpikir masyarakat, tetapi dalam kondisi yang lain mengkhianati globalisasi.
Mengapa demikian? Ya ada preferensi sebagian masyarakat Desa ini yang masih akur dengan primordialisme yang akut. Negara ini sudah terlanjur berdemokrasi disemua sektor yang jika dianalisis secara sederhana demokrasi disemua sektor ini akan tumbuh jika berpacu dalam
Sirkuit globalisasi. Maka tidak ada ruang bagi penentang globalisasi untuk menahan laju globalisasi, yang mungkin dapat dilakukan adalah mengontrol kelajuan ini secara kritis dengan intelektualitas modern. Olehnya itu Desa tak mungkin akan tinggal diam dalam mengejawantahkan keinginan nasional dalam merealisasikan kebijakan-kebijakan pro globalisasi. Sekarang muncul pertanyaan apakan perkara primordialisme adalah jawaban kritis untuk mengotrol laju globalisasi ini? Jawabannya pasti bukan. Karena primordialisme adalah kerangka praktek sosial yang menghendaki patriarki semakin tumbuh subur yang didalmnya ada hirarki.
Secara sederhana dapat dikatakan ada ketimpangan antara pro globalisasi secara menyeluruh di Indonesia dan keberadaan primordialitas ini. Secara kuantitatif bahwa di Desa ini 60% masyarakat sudah melek dengan tekhnologi, tetapi justru angka kuantitatif ini tidak dibarengai dengan angka kualitatif. Bagaimana tidak, sebagian laki-laki dewasa yang beristri di Desa ini masih baranggapan bahwa laki-lakilah yang harus lebih dulu menggunkan Smartphone dari pada parempuan. Inilah bukti bahwa patriarki masih ada di zaman modern ini bahkan postmodern ini.
Akhirnya dampak dari praktek patriarki semacam itu adalah bahwa perempuan tidak siap untuk berkompetisi dalam era globalisasi semantara laki-laki relatif sudah siap. Dan akhirnya pula perempuan dalam menggunakan alat komunikasinya sangatlah hati-hati, tetapi laki-laki sudah sampai pada tahap menggunakan alat komunikasinya untuk menggoda perempuan lain selain istrinya. Jadi kesiapan untuk berkompetisi di zaman modern tidak dibarengai dengan praktek modren yang demokratis. Sehingga dapat dibayangkan para laki-laki dewasa yang beristri itu melarang istri-istrinya untuk sama dengannya dalam merespon peradaban yang serba terbuka sekarang ini adalah para aktor penghambat perubahan.
Sebagai pengingat jika perkara primordialitas ini terus menjadi-jadi dan semakin akut, dapat diterka dihari-hari selanjutnya jika globalisasi yang akan datang muncul lagi dengan inovasi dan kebaruannya justru akan semakin menjadikan para laki-laki dewasa tadi akan beristri banyak.
Debat tentang globalisasipun sampai hari ini masih menjadi topik yang menarik, baik kedudukan teoritisnya maupun tataran praktisnya. Pengambilalihan lahan politik kaum kiri oleh kaum kanan menjadi pemantik perdebatan akan globalisasi ini. Memang susah untuk terhindarkan bahwa sendi-sendi kehidupan akan pasti dapat mengikuti evolusi peradaban modern disemua sektor dengan globalisasi ini.
Tak terkecuali Masyarakat Desa yang lama atau cepat pasti akan ikut andil dalam melanggengkan ambisi globalisasi. Ambil contoh salah satu Desa di bagian selatan Bulukumba yaitu Desa Tamatto. Desa ini secara sosial merupakan Desa yang tumbuh dengan semangat gotong royong yang tinggi. Tapi akhir-akhir ini semangat itu sepertinya relatif menurun mungkin dikarenakan modernisasi. Perkara ini tak sekedar merubah cara berpikir masyarakat, tetapi dalam kondisi yang lain mengkhianati globalisasi.
Mengapa demikian? Ya ada preferensi sebagian masyarakat Desa ini yang masih akur dengan primordialisme yang akut. Negara ini sudah terlanjur berdemokrasi disemua sektor yang jika dianalisis secara sederhana demokrasi disemua sektor ini akan tumbuh jika berpacu dalam
Sirkuit globalisasi. Maka tidak ada ruang bagi penentang globalisasi untuk menahan laju globalisasi, yang mungkin dapat dilakukan adalah mengontrol kelajuan ini secara kritis dengan intelektualitas modern. Olehnya itu Desa tak mungkin akan tinggal diam dalam mengejawantahkan keinginan nasional dalam merealisasikan kebijakan-kebijakan pro globalisasi. Sekarang muncul pertanyaan apakan perkara primordialisme adalah jawaban kritis untuk mengotrol laju globalisasi ini? Jawabannya pasti bukan. Karena primordialisme adalah kerangka praktek sosial yang menghendaki patriarki semakin tumbuh subur yang didalmnya ada hirarki.
Secara sederhana dapat dikatakan ada ketimpangan antara pro globalisasi secara menyeluruh di Indonesia dan keberadaan primordialitas ini. Secara kuantitatif bahwa di Desa ini 60% masyarakat sudah melek dengan tekhnologi, tetapi justru angka kuantitatif ini tidak dibarengai dengan angka kualitatif. Bagaimana tidak, sebagian laki-laki dewasa yang beristri di Desa ini masih baranggapan bahwa laki-lakilah yang harus lebih dulu menggunkan Smartphone dari pada parempuan. Inilah bukti bahwa patriarki masih ada di zaman modern ini bahkan postmodern ini.
Akhirnya dampak dari praktek patriarki semacam itu adalah bahwa perempuan tidak siap untuk berkompetisi dalam era globalisasi semantara laki-laki relatif sudah siap. Dan akhirnya pula perempuan dalam menggunakan alat komunikasinya sangatlah hati-hati, tetapi laki-laki sudah sampai pada tahap menggunakan alat komunikasinya untuk menggoda perempuan lain selain istrinya. Jadi kesiapan untuk berkompetisi di zaman modern tidak dibarengai dengan praktek modren yang demokratis. Sehingga dapat dibayangkan para laki-laki dewasa yang beristri itu melarang istri-istrinya untuk sama dengannya dalam merespon peradaban yang serba terbuka sekarang ini adalah para aktor penghambat perubahan.
Sebagai pengingat jika perkara primordialitas ini terus menjadi-jadi dan semakin akut, dapat diterka dihari-hari selanjutnya jika globalisasi yang akan datang muncul lagi dengan inovasi dan kebaruannya justru akan semakin menjadikan para laki-laki dewasa tadi akan beristri banyak.

0 Response to "Perkara Primordialistas dan Melek Tekhnologi di Desa"
Post a Comment