-->

meng-IMAN-i PANCASILA


Kehidupan yang semakin membaik tentu tidak lepas dari mereka yang terus gigih berpikir dan bertindak untuk menerangi setiap kebuntuan kehidupan di Negeri ini. Karenanya patut rasanya kita berkirim terima kasih kepada mereka walaupun kegigihan mereka tak pernah dipertontonkan secara gagah dikhalayak. Dari setiap jerih payah itu tentulah ada semacam keinginan besar yang terimpikan dari setiap usaha-usaha untuk sampai pada satu keinginan besar. Apapun itu, yang pasti mereka adalah pahlawan sesungguhnya dalam mewujudkantatanan kehidupan bernegara yang membaik

Meneropong jauh kembali Indonesia dimasa lalu dan merefleksikan peran mereka tak mungkin rasanya kita melepaskan diri dari ikatan pemersatu keinginan itu yaitu pancasila dan UUD 1945. Naskah teoritis itulah yang memberikan gambaran bagi kita sekarang bahwa keinginan besar untuk menjadikan Republik ini untuk merdeka secara politik, merdeka secara ekonomi, merdeka secara keberagaman, merdeka secara ideologi. Barangkali topik tentang pancasila tidak lagi menjadi salah satu diskursus yang menarik dewasa ini, karena posisi kita tidak lagi ada dimasa-masa kritis untuk memerdekakan Negara ini. Tapi tak apalah ruang-ruang diskursus sunyi membincang tentang pancasila, yang pasti kita tetap menjadikannya sebagai pegangan hidup dalam menyambung usaha-usaha mereka yang punya dedikasih kuat dalam membentengi pancasila.

Tulisan ini sebagai usaha untuk mencoba menghangatkan lagi ruang-ruang diskursus yang dulu pernah hangat sebagai tujuan paling dasar. Tentu ada semacam harapan terbarukan dari percobaan ini.  Bagaiamana seutuhnya kita meyakini pancasila sebagai filosifi dasar kehidupan dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara

Secara sederhana kita bisa menguji, mengevaluasi dan memberikan konklusi bahwa peruntukan hadirnya pancasila adalah seluruh rakyat indonesai tanpa mengenal suku, agama, ras dan golongan. Tapi dalam tahap implementasi dan perencanaan sebagai bentuk penjabaran-penjabaran teknis dan praktis tentu tidak lepas dari peran maksimal dari aparatur Negara. Tanpa kemudian bermaksud membebankan kepada mereka. Dalam konteks penjabaran inilah dibutuhkan suatu kecerdasan untuk memahami secara komprehensif keinginan setiap sila dalam pancasila dalam membuat jalur untuk sampai kepadanya, tapi telebih dahulu ada semacam iman untuk menjadi pemantik hasrat guna tercapainya harapan besar itu.  

5 Responses to "meng-IMAN-i PANCASILA"

  1. salam, gimana tuk ngundang bung untuk diskusi dengan kelompok belajar kami?

    ReplyDelete
  2. Pancasila ada konsep, tp untuk merealisasikan konsep akademik itu tentu bergantung pada APBN

    ReplyDelete

Iklan Atas Arikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel